SAKSI MATA
Baiklah, aku akan ceritakan kepadamu suatu rahasia, simpan
untukmu sendiri tapi, berjanjilah jangan kau ceritakan kepada siapapun.
Siapapun. S I A P A P U N: ibumu, bapakmu, nenekmu, kakekmu, anakmu, istrimu,
suamimu, temanmu, saudaramu, bahkan musuhmu sekalipun. Hanya kepadamulah aku
menceritakannya bahwa…aku lah saksi itu.
Saat itu aku tengah menyelesaikan santap malamku. Ku lihat dia
memasuki kamar dengan pakaian kerja celana hitam dan baju yang masih terbungkus
mantel-sepertinya dia habis lembur lagi. Dia melepas sepatu fantofel hitam mengkilatnya,
menaruh dijajaran rak sepatu. Buru-buru dia memburu tempat tidur, membenamkan
diri diatas bedcover berwarna biru yang maskulin.
Ruangan itu tidak besar, hanya berisikan
tempat tidur cukup untuk dua orang, lemari pakaian setinggi pria dewasa, rak
buku lengkap dengan buku-buku tertata rapi, rak sepatu di dekat pintu, rak
kecil berisi peralatan dapur, tempat sampah, meja tempat televisi dan sebuah
sofa. Tak ada foto yang tertempel di tembok ruangan itu, hanya jam dinding dan
pengharum ruangan otomatis yang menyemprotkan harum aroma jeruk tiap empat
puluh lima menit.
Tak lama setelah membenamkan diri di atas
peraduannya, tak ada suara yang terdengar, hanya suara detak jam dinding dimana
jarum pendeknya baru saja menyentuh angka 10. Sunyi. Sepertinya dia tertidur. Tepat
ketika ku temukan makanan penutup, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Don, kamu udah pulang sayang?” itu suara
Clara, gadis manis berambut hitam lurus sepinggang, berperawakan langsing,
kulit putih mulus bak bintang iklan di tivi. “Sayang…kamu di dalam kan?”
terdengar lagi suara Clara sambil mengetuk pintu. Doni yang tengah tertidur mulai menggeliat,
tanda-tanda kehidupan mulai nampak padanya. Lelaki yang dipanggil ‘sayang’ itu
pun bergegas bangun seraya menyahut malas “iya sayang…sebentar…”. Terdengar
suara kunci diputar dua kali, muncullah wajah manis yang sedari tadi mengetok
pintu, lantas langsung memeluk lelaki bertubuh tegap dihadapannya.
“Sayang…kamu baru bangun tidur ya? Wajahmu
kusut sekali?”
“Iya sayang, aku capek banget nih. Lembur lagi tadi, di jalan
macet parah ada iring-iringan presiden lewat.” Mengunci pintu.
Sambil bergandengan tangan, keduanya menuju sofa di depan tivi.
Duduk. Bercumbu mesra sekali. Seolah tangan mereka baru terlepas dari
rantai besi, bebas menjalar kemana-mana mengiringi desah nafas mereka yang
berantakan. Selalu begitu saat mereka duduk disitu. Jengah, aku pun
membelakangi mereka sambil menikmati dessert-ku.
“Sayang…” Clara menggelayut manja sambil berbisik, “Hari ini aku bahagia
sekali...aku telat tiga bulan” wajah itu tersenyum sumringah, tanpa beban,
tanpa dosa.
Bisikan itu ternyata mampu membuat tersedak
Doni. Yah, aku juga tersedak, lalu melirik Doni, aku melihatnya cukup dekat mukanya
lantas berubah pucat, bingung, tercekat. Dengan gugup dia melepas pelukan Clara di pinggangangnya.
“Apa sayang? Kamu telat tiga bulan? Kamu yakin? Udah
kamu cek?” Doni bertanya serius.
“Udah sayang…aku udah cek, hasilnya positif. Aku hamil.”
“Tidak, tidak, tidak…itu tidak mungkin.” Doni bangkit dari sofa, membuang
muka dari hadapan kekasihnya.
“Tidak mungkin bagaimana?“ seru Clara turut bangkit.
“Katakan padaku, anak siapa yang ada dalam perutmu itu?
Katakan!” Doni menggoncang tubuh gadis yang mulai gemetar itu.
“Apa maksudmu ini anak siapa? Ini anakmu. Anak kita.” Jatuhlah
air mata sebutir dua butir lalu deras bagai bendungan jebol. Tak tertahankan
lagi.
“Kita kan selama ini pake pengaman, bagaimana mungkin
kamu bisa hamil? Kamu pasti melakukannya dengan orang lain!”
PLAK!!! Tamparan keras mendarat di pipi
kanan Doni. “Tega sekali kamu mengatakan itu. Kamu pikir aku ini apa? Wanita
murahan? Lonte? Hah?! Kamu lupa sekali dua kali di kamarku kamu tidak pake?”
Clara berang mencoba menjelaskan beberan fakta kala setan nongkrong diotak
mereka. Dibiarkan jangan pergi dulu. Adegan mirip sinetron itu berhasil
membunyikan genderang perang diantara keduanya. “Nikahin aku Don, kamu harus
bertanggung jawab!“ lanjutnya.
“Aku tidak mau. Gugurkan saja kandunganmu
itu“. Balas Doni sengit, mengelak.
“Apa kamu bilang, hah? Gugurkan? Kamu gila!
Selama ini aku menuruti nafsu birahimu, sekarang aku harus menuruti pikiran
bejatmu? Sinting kau!“ Clara semakin terisak, menyadari pria yang baru 6 bulan
memacarinya itu, telah berubah seperti monster biadab mengerikan. Tak seperti
yang dia kenal selama ini, romantis, lucu, dan lembut memanjakan dirinya.
“Kenapa tidak? Toh, baru tiga bulan ini.
Mumpung masih belum besar kandunganmu itu.“
“Jika tau begini, tidak akan pernah aku mau
melayanimu.“
“Sekarang kamu baru menyesal, hah? Kita
melakukan ini suka sama suka, kan?. Jadi kenapa aku harus menikahimu? Jika kamu
gak mau membunuh bayi sialan itu, cari laki-laki lain yang mau menikahimu.
Sekarang kamu keluar dari kamarku. Keluar!“ Doni mendorong tubuh Clara, yang
didorong berontak ingin lepas.
“Aku tidak mau pergi sampai kamu mau
nikahin aku!“
“Kamu gila Clara! Kamu GILA! Sampai
kapanpun, aku tidak akan menikahi kamu! Dengar baik-baik itu.“
“Kenapa? KENAPA?“ Clara berteriak meradang.
Doni terdiam, mematung...Clara memukuli
tubuh yang mendadak entah jadi bisu entah tuli. Berharap dengan begitu ‘patung‘
Doni hidup menjadi manusia kembali, kemudian mengelurkan kata ‘IYA‘, ‘BAIKLAH‘,
‘OKE‘ atau semacamnya.
“Aku sudah menikah, PUAS?!“ seru Doni
sambil mencoba menggenggam kepalan tangan berjari lentik yang tak berhenti
memukulinya sedari tadi.
Clara berhenti memukuli, mengangkat wajah,
bahkan air matanya juga mendadak ikut berhenti. Bak ditekan tombol off, otomatis. Sejurus kemudian gadis itu malah
semakin menjadi, memukuli Doni dengan brutal. Entah setan mana yang merasuki
Doni saat itu, dia membalas pukulan Clara tepat di kepala, gadis itu
terpelanting menabrak gelas dan piring di rak, menimbulkan bunyi PRANG KLONTANG
bunyi khas Piring pecah dan benda-benda lain berjatuhan disusul bunyi berdebam
tubuh Clara terjun bebas di atas lantai. Tak puas memukuli, kaki yang biasa
dipakai futsal, kini ia pakai menendangi tubuh gadis yang biasa dia panggil
‘sayang’ itu bagai menendang bola masuk ke gawang. Bersemangat sekali, penuh energi,
meski tanpa sepatu bola. “Wanita sialan kau! Tak tau diri! Jalang! Lonte! Mati
kau! Mati!” Doni terus memaki dan menendang, hingga tubuh Clara tak bergerak
lagi. Rupanya malaikat maut turut mendengar bunyi genderang perang mereka,
seolah merasa diundang. Mengamini makian Doni. Matilah gadis naas itu.
Tersadar yang ditendangi tak bergerak, Doni
berhenti. Dipandanginya wajah tertutup rambut lurus sedikit berantakan kini, sambil
membungkuk, menggerak gerakkan tubuh berbalut baju merah maroon itu, berharap
menemukan tanda-tanda kehidupan. Perlahan ia menyingkapkan rambut panjang yang
menutupi, dirabanya hidung mancung yang ternyata telah kehabisan stok udara,
tidak bernafas. Terkaget, Doni terduduk, lalu menangis memeluk raga tak
bernyawa yang sejam lalu bercumbu dengannya di sofa. “Tidak...bangun Clara!
Bangun! Bangun sayang! Bangun...maafkan aku...maaf...“ Doni terisak, menangis
sejadi-jadinya. Menyesal.
Ketika kesadarannya kembali, dia baru
menyadari telah membunuh, yah, membunuh kekasih gelapnya, selingkuhannya di
kota. Buru-buru Doni melucuti sprei tempat tidurnya yang kini beralih fungsi
menjadi pembungkus tubuh Clara. Sambil mengendap-endap, Doni membuka pintu,
membawa bungkusan sprei itu keluar. KLIK KLIK. Pintu terkunci dari luar.
Srott...tersengar bunyi pengharum ruangan
otomatis, menyebarkan bau jeruk segar ke penjuru ruangan, empat puluh lima
menit berlalu. Setelah semprotan kedua, Doni dengan celana kotor bekas tanah
masuk ke kamar. Matanya yang memerah menemukan sosokku diantara bekas tempat
Clara mati, di dekat pecahan piring. Dia mengacungkan sepatunya sambil mendekat
kepadaku, “Dasar kecoa sialan! Kubunuh juga kau!”. Aku berlari sekuat tenaga, menyelamatkan
diri dari serangan Doni. Tetapi Doni terus mengejar sambil menghantamkan sepatunya
ke arahku. Kini dia mencoba membunuhku, saksi mata perbuatan sadisnya terhadap
Clara, gadis metropolitan berusia seperempat abad. Hampir mengenai, tapi
untung, aku lebih gesit, hingga aku bisa meloloskan diri keluar melalui celah
pintu. Aku terus berlari, merayap di dinding, terus berlari, hingga sampailah
aku disini, bersamamu.
Oleh karena itu teman, aku ceritakan
kepadamu suatu rahasia, simpan untukmu sendiri tapi, berjanjilah jangan kau
ceritakan kepada siapapun. Siapapun. S I A P A P U N: ibumu, bapakmu, nenekmu,
kakekmu, anakmu, istrimu, suamimu, temanmu, saudaramu, bahkan musuhmu
sekalipun. Hanya kepadamulah aku menceritakannya bahwa…aku lah saksi itu.
Banyuwangi,
16 Juli 2013
LIA ARDIAN SARI